Monday, 23 September 2013

Mukena Untuk Putriku


“Bapak, aku pengen mukena baru”, kalimat itu terus terngiang-ngiang dipikiranku. Suara putriku, Ani. Gadis 8 tahun itu ingin mukena baru untuk bulan Ramadhan nanti. Semenjak kematian Ibunya 3 tahun yang lalu, hal-hal mengenai sandang bahkan mukena pun tak dihiraukannya. Dipikirannya hanya bagaimana anaknya bisa makan, tidur, dan bersekolah. Walaupun dengan seragam ataupun makan sederhana.
“Bapak, aku pengen mukena baru. Lihat ini sobek dan berjamur di lingkar muka, masak sholat mukenanya udah jelek gini pak, apalagi kalau ke masjid,  jadi keliatan makin jelek kalau dibandingin sama yang lain’’, kata Ani merengek. Sang ayah hanya tersenyum sambil melihat-lihat kondisi mukena yang diperlihatkan anaknya. “iya nak, tunggu berkah Ramadhan itu datang ya nak”, batinnya. Si bapak memang tak pernah tega berucap hanya sekedar mengiyakan atau menyuruhnya untuk bersabar dulu.
“Aku ini pemulung, sekedar untuk membeli air mineral 500 rupiah saja aku berpikir ribuan kali, mending disimpan untuk makan”, gumamnya.

Dibawah terik mentari ia kayuh sepeda tuanya menuju kawasan perumahan, siapa tahu banyak sampah yang lebih berharga yang kemudian dapat terjual dengan lebih tinggi. Sebenarnya, sehari-hari ia memulung dengan berjalan kaki, dengan jangkauan 7-10 desa perhari ia mampu. Dan tempat pengepul sampah menjadi tujuan akhir. Tiba disuatu perumahan, tanpa piker panjang ia segera menuju bak sampah disetiap depan rumah. Benar dugaannya, ia mendapatkan beberapa peralatan rumah tangga berupa panci, dan beberapa alat elektronik yang mungkin ini sudah rusak dan si pemilik membuangnya begitu saja. “wah ini pasti lumayan kalau dijual lagi”, gumamnya sambil memutar-muta volume radio yang ia temukan di bak sampah tersebut. Sudah mati memang. “Semoga bisa aku perbaiki nanti dirumah, lalu aku jual di barkas, pasti lumayan”, iya, dia juga melayani service elektronik sebagai sampingan di rumahnya, namun seiring perkembangan jaman banyak orang lebih memilih membeli barang baru daripada mencoba memperbaikinya dulu. Maka dari itu ia beralih profesi sebagai pemulung.
Menuju kerumah berikutnya, ia koyak-koyak bak sampahnya, “ah…hanya sisa-sisa makanan”. Ia tak patah semangat, perkataan berikut permintaan hingga rengekan sang putri terus terngiang di kepalanya. Tiba di rumah yang ketiga bak sampahnya masih kosong. Di rumah ke empat, ia menemukan bak sampah yang penuh sisa-sisa makanan dalam kardus-kardus kotak. Beberapa ada ayam yang goreng yang masih lumayan utuh, tanpa pikir panjang ia masukkan ke dalam kantong plastic yang khusus ia bawa disaat memulung untuk makanan yang masih layak untuk ia dan putrinya makan. Demi apapun juga, ia tak sampai hati memberi putrinya makanan sisa bahkan dari bak sampah, tapi apa daya, ia takut tak dapat membeli makanan hingga sarapan besok. Dan putrinya pun memaklumi serta dengan senang hati menerima segala makanan yang ia dapatkan dari bapaknya.
Hingga di rumah terakhir di perumahan tersebut ia berhasil mengumpulkan berbagai barang yang menurutnya mungkin akan bernilai lebih jika dijual di pengepul nanti. Tak terasa sudah sore, ia bergegas menuju ke pengepul. “Alhamdulillah, penghasilan hari ini lumayan, 50.000 ribu ditangan, ia bergegas pulang untuk memberikannya kepada putrinya bahwa Allah sudah turunkan rezeki lebih untuk membeli mukena.
Diperjalanan pulang, ia tak lupa mampir ke warung seperti biasa untuk membeli nasi dan sayur, syukur tadi dapat ayam. Dia hanya membeli sebungkus, ia rela tak makan cukup membeli roti seharga seribu rupiah dan ia lahap langsung di warung. Ia tak mau mengurangi penghasilannya hari ini hanya untuk urusan perutnya yang mungkin tak akan pernah merasa kenyang. Sambil menikmati rotinya dan duduk-duduk sekedar melepas lelahnya, ia melihat seorang ibu-ibu yang menggendong anaknya dengan merengek memohon kepada penjaga warung agar diperbolehkan berhutang beras dan obat demam untuk anak yang ia gendong. Sepertinya ibu ini sudah kerap berhutang dan beberapa belum dilunasi. Entah bagaimana, si bapak langsung menghampiri ibu tersebut dan berkata, “bu ini ada sedikit uang 40.000, mohon diterima kiranya cukup untuk membeli makan dan obat untuk anak ibu, saya ikhlas, ambil saja” entahlah, ia sangat mengerti bagaimana rasanya di posisi ibu tersebut, “mengenai mukena, biar Allah yang mengatur, belum waktunya saja”, batinnya.
Sesampai dirumah, ia segera memanggil putrinya untuk menyuruhnya makan. Sekali lagi, “bapak, aku pengen mukena baru, kapan belinya, sebentar lagi Ramadhan tiba”, rengek putrinya. “iya nak, sebentar lagi ya, kalau sudah ada uang kita ke toko, pilih mana yang kamu suka”, kata bapak menenangkan hati putrinya. “ asyiik, bener ya pak”, seru putrinya. Dan sang bapak hanya tersenyum mengakhiri perbincangan tersebut kemudian menuju kamar mandi dengan sisa-sisa tenaganya.
Tengah malam ia tunaikan 2 rakaat seperti biasanya, ia selipkan doa khusus mengenai mukena tersebut, ia uraikan keinginan putrinya ke Allah, “Ya Allah, Tuhan yang Maha pemberi rezeki dan mengatur segalanya, putriku hanya ingin layak ketika menyembahmu di setiap 5 waktunya dan tarawihnya nanti, maka perkenankanlah Engkau kabulkan keinginan putriku untuk memiliki mukena baru. Aamiin”, doanya sambil meneteskan air mata.
Keesokan harinya ia memulung lagi di perumahan namun berbeda dari tempat sebelumnya, berharap ia beruntung seperti kemaren. Sampai dirumah pertama ia tak menemukan apa-apa, di rumah kedua ia melihat seorang perempuan yang sedang membuang sampah, ia pun mengucapkan salam dan permisi untuk memulung di bak sampahnya. Perempuan tersebut mempersilakan bahkan mengajak si bapak berbincang-bincang hingga pada akhirnya si bapak bercerita mengenai keinginan putrinya. “Pak, kebetulan dirumah saya ini produksi mukena untuk anak-anak dan remaja, kalau berkenan, silakan kedalam atau ajak anak bapak kesini untuk melihat-lihat mukenanya, siapa tahu putri bapak suka”, katanya perempuan tadi. “ Wah mbak, putri saya pasti senang sekali, tapi tunggu saya dapat uang dulu”, jawab si bapak. “Bapak tidak  perlu bawa uang kok, saya beri gratis, beberapa hari lagi puasa, anggap ini kejutan sebelum Ramadhan untuk putri bapak dari Allah melalui saya”, dengan ramah perempuan itu menjelaskan. “Alhamdulillah, ini serius mbak? Terima kasih banyak, kalau begitu saya langsung pulang saja nanti sepulang putri saya sekolah langsung saya ajak kesini, semoga Allah membalas kebaikan mbak dengan berbagai kejutan baik lainnya, sekali lagi terima kasih mbak, terima kasih”, ucap bapak sambil tak henti-hentinya melepaskan salamannya. Ia bergegas pulang dan menunggu putrinya pulang.
Putri cantiknya pun tiba juga di rumah. “Nak, cepat mandi, ayo ikut bapak, kamu pilih mukena kesukaanmu” katanya dengan senyum-senyum menatap muka anaknya. “wah, bener pak? Bapak sudah punya uang?” tanyanya dengan riang. Bapaknya hanya mengangguk dan putrinya pun langsung bergegas mandi dengan riangnya.
Sesampai di rumah perempuan tadi, dengan bahagianya, putrinya memilih mukena kesukaannya. Bahkan perempuan tadi menyuruhnya untuk memilih 2 mukena untuk ia bawa pulang. Tak henti-hentinya si bapak mengucapkan terima kasih dan rasa syukurnya kepada Allah.
Ini sungguh menjadi kejutan sebelum Ramadhan bagi putri dan dirinya sendiri.

1 comments:

Selalu ada jalan keluar untuk orang tua yang menyayangi anaknya. Cerita yang menyentuh sekali. Selamat atas kemenangan cerpen ini, sampai akhirnya dibukukan. :))

Post a comment