yang tak terlupakan,19 Januari 2013.

Jalan-jalan sama temen kuliah.

Puluhan Pantai Cantik Di Gunungkidul Yogyakarta

Butuh Referensi pantai-pantai di Jogja?? cuss klik judulnya!

Pantai Jungwok dan Pantai Greweng

Adventure is out there!!!

Les dan Privat Akuntansi Yogyakarta

hai!kamu yang di jogja (SMA/SMK/Perguruan Tinggi) lagi bingung sama yang namanya akuntansi?? jurnal jurnal ampek laporan keuangan?? yuk les/privat akuntansi

Thursday, 5 August 2021

Anak Kos (6) -end-

29 Juli 2021 resmi keluar dari predikat Anak Kos. Alhamdulillah..alhamdulillah.

Dari tahun 2009 sampe Juli 2021 total kurang lebih 12 tahun  jadi anak kos. Wow!!!! Amazing!!!! Jogja dan Pontianak adalah 2 kota perantauan yang luar biasa. Terima kasih lho.

Sungguh jadi pelajaran dan pengalaman luar biasa selama merantau dan jadi anak kos. Alhamdulillah. Semua akan jadi bekal pelajaran kehidupan untuk anak cucu nanti. Semoga Allah mudahkan segalanya dimanapun aku berada. Nitip doa ya gaes.

Saat ini statusnya masih merantau..tapi sudah di rumah sendiri sama suami. Alhamdulillah. Kenapa masih merantau? Kan sudah "omah-omah"? Bagiku..kampung halamanku ya di Klaten dan tetap asal muasalku Klaten, so....mudiknya ya ke Klaten. Atau ke Lampung (rumah ibu mertua).

Dengan suami statusnya ya merantau. Halah..riweh yaa. Hahaha

Intinya dah ga ngekos lagi. Dah gitu. 

Alhamdulillah­čĄ▓

Terima kasih, Pontianak.

29 Juli 2021, keberangkatanku dari Pontianak menuju Jakarta lalu ke Bekasi, rumah.
Iya...pulang kerumah, akhirnya.
Dari 2014 hingga Juli 2021 hidup di Pontianak sungguh menjadi pengalaman hidup yang luar biasa. 
Pontianak sudah menjadi salah satu bagian hidupku.
Bagian dari perjalanan hidupku.
Kini, aku sudah pulang dan meninggalkan Kota Pontianak Kalimantan Barat untuk masa depan yang insya Allah lebih baik lagi.
Terima kasih ya, Pontianak!

Yang utama rasa syukurku kepada Allah SWT dimana doa dan harapanku terkabul satu demi satu di waktu yang tepat. 
Suami, orang tua, keluarga, teman, sahabat, terima kasih banyak. Sumber doa dan kekuatan. Terima kasih banyak.
Tak lupa, aku ucapkan terima kasih kepada diriku sendiri yang sudah mampu mandiri dan berjuang.
Mampu menghadapi segala kendala, halangan, rintangan yang membentang, berbelok2, namun alhamdulillah semua terlewati dengan baik juga pada akhirnya. Ya kan shif?? Ya! Alhamdulillah.

Perjalanan masih panjang, hidup baru dimulai hari ini. Semoga apa yang menjadi doa dan harapan Allah SWT kabulkan diwaktu yang tepat. Aamiin ya robbal'alamin.

Sunday, 20 September 2020

Quote of The Day

"Lelah boleh, menyerah jangan."

Untuk Shifa, dari Shifa.

Pontianak, 20 September 2020.

Hai.
Usia yang semakin bertambah secara nominal. Namun berkurang secara waktu. Cukup-cukupin nangisnya. Maaf sudah sering menyakiti diri sendiri dengan segala ke-overthinking-an itu. Maaf sudah pernah sempat membenci diri sendiri. 

Shifa..terima kasih sudah menjadi orang yang mau memikirkan keadaan orang lain yang terkadang berlebihan dan itu kurang baik jadinya.
Terima kasih sudah mau dan mampu berjalan sangat jauh.
Terima kasih sudah menjadi perempuan yang hebat, merantau, keluar dari zona nyaman, berjuang demi masa depan.
Terima kasih sudah mau belajar bagaimana "menerima".
Terima kasih sudah mau berusaha sangat luar biasa. 
Terima kasih sudah menyerahkan segalanya kepada Allah SWT, termasuk segala perkataaan dan perlakuan orang lain yang buruk terhadapmu. 

Boleh jika ingin melihat kebelakang, namun hanya sekedar untuk melihat betapa hebatnya dirimu sudah melalui hal-hal yang lalu. Sulit atau mudah, senang maupun susah, kamu mampu dan kuat. Jangan meratapi apa-apa yang sudah-sudah.

Kamu boleh duduk sebentar untuk mengatur nafas. Itu perlu. Silakan.
Kemudian teruslah berjalan, lari, kejar apa yang membahagiakan bagimu.
Tanpa lupa orang-orang yang mendukung dan mendoakanmu. Tanpa lupa apa saja yang sudah kamu lalui.

Aku harap kamu menjadi pribadi yang makin luar biasa hebat. Menjadi istri yang solehah dan anak yang berbakti kepada orang tua.

Percaya saja. Semua akan segera berlalu seperti yang sudah-sudah. 

Yakinlah.

Berbahagialah, kamu, kita.

Terima kasih banyak ya. ❤️

Saturday, 19 September 2020

Pikir matang informasi atau telan

Dengan kondisi pandemi saat ini kita dituntut untuk menjaga diri dan juga orang lain. Minimal untuk diri sendiri memang.
Kemudian ditambah lagi dengan tantangan menahan informasi bohong, hoax, belum dapat dipertanggungjawabkan serta tantangan bagaimana mengolah suatu informasi yang kita dapat walaupun sumber dari katanya dapat diandalkan. Mengolah dalam artian, menimbang terlebih dahulu informasi tersebut dengan cara bagaimana kita menyampaikannya, pikirkan terlebih dahulu sebab akibatnya nanti jika informasi tersebut sudah tersebar. 
Terlebih, sasaran informasi tersebut utk orang2 yg notabene sudah lebih dulu menerapkan hal2 yang sudah seharusnya dilakukan. Jauh berbeda dengan yg menyampaikan yg tak peduli dengan sekitar, seenaknya buang ingus ditempat dengan tisu2nya.
Benar, memang hal tersebut ingin disampaikan karena penting dan mungkin dapat membahayakan orang lain. Terlebih informasi tersebut hanyalah setengah2. Tapi pikirkan terlebih dahulu matang2, plus negatifnya.
Ada banyak hal yang musti dijaga. Ada banyak hati dan pikiran yang lebih harus diutamakan untuk tetap waras.
Ada orang yang hari2nya menjadi gelap, oenuh ketakutan, kekhawatiran, bukan apa, beban moril yg mungkin setiap orang berbeda2. Ada keluarga jauh yang betapa cemasnya mengetahui informasi tersebut.
Hingga pada akhirnya, informasi tersebut ternyata salah. Ada beberapa hal yg mungkin oknum tersebut tidak paham bahkan mungkin tidak kompeten dalam hal tersebut ditambah lagi dibagikannyalah informasi tersebut ke orang yang sangatlah tidak tepat. Kesehariannya saja sudah terbaca.
Bagaimana tidak terluka? Bagaimana tidak sakit, hati orang, keluarga yang diakibatkan oleh informasi tersebut. Banyak rencana masa depan yang sudah dirancang sedemikian rupa hingga pada akhirnya menjadi berantakan dikarenakan sebuah kecemasan berlebih. Betapa luarbiasanya dampak akibat informasi salah tersebut.
Kemudian ada yang berkata.."tidak boleh kayak gitu, dia pun tidak niat dan bertujuan seperti itu". Mohon maaf nih, sebelumnya pernah nyoba memposisikan diri sendiri seperti orang2 yg sudah terkena dampak informasi salah itu nggak? Memposisikan diri sebagai keluarga yang menjadi korban penyampaian informasi yg tak dapat dipertanggungjawabkan? Engga kan? Kok kita yang harus maklum? Kok kita yang harus menerima hari2 kita seperti mimpi buruk? Berpikir dulu ga matang2 dampak apa yang akan terjadi jika informasi setengah yg ga jelas dan blm bs dipertanggungjawabkan beredar? 
Sudah minta maaf tapi masih ada "ngeles" maaf atau apa itu?
Setelah terbukti salah apakah meminta maaf? Tidak. Seolah semua biasa saja. Tapi tidak untuk korban.

Pelajaran bagi saya. Pelajaran bagi saya. Cukup. Hanya Allah yang tahu apa yg saya dan keluarga rasakan, maka hanya Allah lah yang dapat membalas setimpal atas perbuatan2 tersebut. Allah yang balas. Allah yang balas.

Maka penting bagi kita untuk, pikir matang2 atau mending telan saja untuk diri sendiri.

Sunday, 13 September 2020

Mengenai Pilihan

Hidup itu penuh dengan pilihan. Masing-masing orang punya caranya untuk memilih. Pake perasaan, akal, logika? Atau cang cing cup kembang kuncup? Sesepele ngitungin jumlah kancing? Ah....andai seremeh itu. Makin dewasa makin aneh-aneh keadaannya. Dihadapkan dengan beberapa pilihan dalam menentukan masa depan.
Eh!! Siapa aku nih mau milih masa depanku kayak gimana???
Oke..mungkin lebih pasnya, aku ini merencanakan masa depan yang bagaimana. Namun ujungnya Allah lah yang punya kuasaNya untuk menentukan apa yang terbaik untuk ku, hambaNya. HambaNya yang segini ringkihnya. Segini cengengnya. Segini lemahnya.
Silakan memilih, yakin, lalu pasrahkan kepada Allah. Begitu teorinya. Praktekin. Sungguh bagi hambaNya yang lemah ini, hal ini merupakan ujian yang level tinggi, karena mencakup hal yang bernama "ikhlas". Lagi-lagi....aku ini manusia biasa, ikhlas itu dah kayak yang bisa kah manusia itu benar-benar "ikhlas"?? Bisa kah?? Eh meragukan diri sendiri maupun orang lain ini namanya. 
Balik lagi, menentukan pilihan lalu memasrahkan kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galanya adalah termasuk ujian bagiku. Semoga aku lulus dengan nilai sempurna. Tapi tunggu, sempurna itu hanya milik Allah. Aku akan tetap berusaha dan berdoa, sisanya Allah yang menentukan dengan kuasa-Nya. 

Friday, 19 June 2020

Anak Kos (5)

Udah lama banget ga nerusin serial anak kos. Saking terlalu banyaknya fenomena anak kos dan aku malas nulis, sekarang bingung mau cerita yang mana.
Kondisi sekarang sih lagi happy-happynya. Because what?? Karena sekosan cuma kamar aku doang yang isi. Ada sih 1 kamar yg ada penghuninya, tapi lagi balik kampung karena pandemi ini. Oh sad. Jadi lebih bebas. Kos lebih bersih dan rapi. Terutama bagian dapur. Biasanya dapur dipakai ramai2 semua penghuni dengan berbagai macam kebiasaannya, jadi jorok banget. Cucian piring yang dibiarin numpuk bikin bau dan semut dimana2. Kompor yang banyak cipratan minyak atau makanan yang ga langsung dibersihkan setelah masak. Eewwhhh. Geli banget asli!
Aku suka heran sih. Kenapa masih banyak orang yang punya kebiasaan buruk seperti itu. Apa mereka tidak paham esensi ngekos itu kayak gimana. Itu barang yang punya kos bukanlah properti pribadi, melainkan untuk umum. Dipakai bersama. Jadi, harap dirawat sebaik2nya. Belum lagi masalah isi gas. Giliran habis pada stop masak dan ngebiarin orang lain masak duluan biar ngisiin. Kan kampret! Hah! Seharusnya begitu. Nah, karena aku nih udah makin malas negur orang, jadilah aku beli kompor portable sendiri, alat masak sendiri aku beli lengkap. 
Sekarang karena sendiri makin happy masak lagi sih. Kinclong terus deh dapurnya. Aku ga bisa gitu biarin berantakan dikit. Kelar masak ya kelar juga nyuci peralatan2 masaknya setelahnya. Habis makan pun juga langsung nyuci piring. Bukankah itu normal? Apa aku yang berlebihan? Nggak kan?


Daftar Isi:

Thursday, 18 June 2020

LDR (4)

Percaya ga sih sama yang namanya zodiak? Percaya dalam artian bukan ramalannya sih, tetapi tentang sifat dan perilaku atau ciri khas seseorang berdasarkan zodiaknya.
Nah, kalau aku tipe yang mengindari banget sama yang namanya ramalannya. Karena aku tuh tipe cewek yang apa2 jadi pikiran, jadi aku mending ga baca aja soal begituan. Mau percaya atau bakal ga percaya tetep aja ga usah baca aja sekalian daripada bilang ga percaya tapi bakal tetep kepikiran.
Trus apa nih hubungan LDR sama zodiak? Ga ada sih, cuma bukan yang namanya shifa kalau ga suka menghubung2kan. Hahaaa
Jadi gini, paham kan LDR itu artinya kita akan berkomunikasi setidaknya lewat telepon, chat, atau sekarang bisa video call. Kita ngobrol langsung tatap muka aja suka ga ketebak apa kata hati dan kata si lawan bicara maksudnya apa. Ngomong apa lalu ditangkapnya apa. Salah paham itu susah terelakkan, kadang. Aku ga nakutin sih, cuma ini berdasarkan pengalaman pribadi ya. Perlu diingat, setiap orang berbeda. BERBEDA!.
Jadi kalau chat tuh aku suka nangkap beda, aku bacanya dengan nada bicara aku gitu, padahal ya ga gitu. Ga gitu intonasi si pengirim pesan. Biasa aja, datar aja. Tapi aku bisa aja nangkepnya beda hanya karena pelatakan titik koma bahkan menurut intonasiku sendiri bisa menimbulkan ga keenakan hati. Halah. Itu hanya salah satu contoh aja loh ya. 
Jadi pada akhirnya aku berusaha introspeksi, apakah aku ini kurang mengenal watak/sifat suami aku sendiri? Apakah aku ini tidak sebegitunya ngerti gaya bahasa dan intonasi suami aku sendiri. Lalu lah aku yang suka keidean ini buka perihal zodiak. Tapi tetap, aku ga buka ramalan keuangan, percintaan atau apalah itu. Aku cari karakter orang berdasarkan zodiak. 
Dan hasilnya, BOOM!!!!! WAH IYA YAAA...LHA BEGITU RUPANYA ORANGNYA..?! WADUUH, IYA JUGA SIH KEK GITU ORANGNYA.

Jadi kayak tersadarkan aja gitu, begitu rupanya sifat suami aku. Sedikit banyak cocok juga. Menurutku lho ya.
Intinya, jangan suka main2 sama ramalan zodiak. Tengok sekali aja untuk cari clue dikit soal karakter orang boleh aja. Tapi tetap, penilaian orang itu ya berbeda2. Diri sendiri kadang ngga ngrasa "aku begitu" tapi belum tentu orang lain juga ngrasa "kamu tuh begitu". Paham ga? Kala nggak, ya udah.