Tuesday, 21 January 2014

dear you.


aku masih ingat betul untuk pertama kali bertatap muka
nuka ku yang kusut akibat ulahmu
aku masih ingat betul betapa kesalnya makan satu meja denganmu
aku masih ingat betul rasanya menghabiskan hari hingga tengah malam
dengan manis serta dinginnya es krim bertabur celaan penuh canda untuk orang sekitar, di suatu jalanan Jogja, Jalan Malioboro.
untuk kau ketahui, itu pertama kalinya setelah sekian lama aku tak mau menyia-nyiakan waktu malamku hanya berdua dengan laki-laki, tapi aku mau berkata "ya" untuk sekedar jalan-jalan melepas penat
aku masih ingat betul betapa anehnya perasaan dari hari ke hari terhadapmu
hingga saat itu, malam menjelang pagi itu...aku masih ingat betul bahagianya, kita.
aku masih ingat betul bagaimana perasaan ini berkecamuk, bahagia, haru, namun takut akan perpisahan, di sepanjang jalan itu.
aku masih ingat betul untuk kedepannya kita akan berjauhan.
ah..aku bahagia, kita bahagia, maka tak perlu pedulikan jarak.

***
aku masih ingat betul betapa dahsyatnya menahan sesak dada sembari memasukkan nasi dan brokoli rasa pizza serta pop ice coklat ke mulut
hingga hujan deras turun untuk mewakilkan
aku masih ingat betul betapa pikiran menolak mentah2 untuk menerima bahwa sudah tiba waktunya berteman dengan jarak.
bukan shifa namanya kalau tak mampu sembunyikan perasaan dibalik candaan cerianya
aku masih ingat betul ketika aku mengok kaca spion dan tak ada lagi kamu.
aku masih ingat betul dari situlah aku sadar aku mulai tak mampu menahan, lalu dengan hujan sore itu.
aku masih ingat betul sebelum kepulanganku ke rumah, aku menelponmu memastikan semuanya baik-baik saja dan kita masih satu kota.

***
esok harinya
semua terlhat biasa, hanya kesibukan Ibuku berbenah dengan segala barang.
aku masih ingat betul mendungnya pagi itu dari balik kaca mobil, perjalanan ke Adi Sucipto.
aku masih ingat betul.......
betapa terhenyaknya aku, tersadarnya aku bahwa hari ini telah tiba tepat disaat Ibu memelukku.
aku masih ingat betul apa pesan mereka, Bapak Ibuku keluargaku, temanku saat hari itu.
hingga di ruang tunggu, aku terdiam, duduk dan menghela nafas panjang.
ku dengarkan beberapa lagu ceria ya sekedar untuk menahan tangis.
hingga akhirnya tibalah aku di Supadio Pontianak.
aku masih ingat betul perjuanganku menyakinkan diri bahwa ini Pontianak, bukan Yogyakarta ataupun Zimbabwe..

dan aku akan selalu ingat betul, bahwa aku disini hanya sebentar saja...untuk mereka yang mencintaiku, 

0 comments:

Post a comment