Tuesday, 21 April 2015

Alhamdulillah

Hai hai, lama tidak membuat postingan baru. *tiup2 debu dan jaring laba2*

Postingan kali ini aku tunjukan sebagai memoar rasa syukur yang semoga teman2 dapat mengambil hal positif dari postingan berikut.

Bersyukur. Sesederhana berucap Alhamdulillah? Tidak.

Aku sedang bersyukur atas apa yang Allah SWT berikan untukku. Semua nikmat hingga bertangis2 di dua rakaat sepertiga malamku.
Nikmat atas tak mampunya mendekat secara raga dengan kedua orang tuaku dan saudara2ku. Nikmat atas pengabdian terhadap suatu pekerjaan sekaligus ibadah dan berbakti kepada orang tuaku.

Tahu kah kalian, aku bekerja di kantor kemudian lepas maghrib hingga hampir tengah malam mengajar les ke alamat yang belum pernah aku kunjungi.  Separah itu kah aku mencari uang? Tidak. Ini wujud kecintaanku atas apa yang aku terima selama kuliah 3,5 tahun. Bapak dan Ibu pernah bilang, jangan biarkan ilmumu memudar sia2.

Aku bukan dari keluarga kaya, Bapak sekarang sudah harus beristirahat di rumah, Ibu pegawai swasta yang bulan lalu sdh pensiun. Tapi alhamdulillah kita berkecukupan selalu. Dan adekku masih bersekolah di SMK. Apakah aku bekerja sekeras itu karena hal itu? Tidak.

Lalu?
Aku hanya berusaha menyisihkan sebagian untuk masa depanku dan sebagian untuk mereka orang2 tercinta (keluarga). Aku tak pernah butuh banyak dan Ibu tak pernah menuntut materi lebih dari aku. Justru Ibu masih saja menanyakan berapa uang peganganku dan cukup tidak untuk sehari2. Ya..masih sama seperti waktu kuliah.

Bapak sakit dan sudah beberapa hari opname di rumah sakit, Ibu tak memberi kabar mengenai hal itu hingga weekend tiba. Tak mau anaknya yg jauh bersedih? Ya.
Nangis? Tentu. Marah? Ya. Apa wujud bakti seorang anak selain menyentuh raga seperti memijatnya atau menyuapinya? Doa. Aku hanya mampu menyisipkan dzikir dan menyebut Asma Allah dalam setiap nafas dan diamku walaupun dalam posisi bekerja. Baru di sepertiga malamnya aku menangis sejadi2nya diatas sajadah dan mengadu kenapa harus seperti ini keadaannya.

Marah dengan Allah? Sempat. Lantas Allah memberi jawaban lewat seorang sahabat, "ini lah baktimu kepada org tuamu, bekerja beribadah berdoa sekaligus itu membahagiakan mereka"

Aku menjadi PNS pun karena mereka, mewujudkan apa yg mereka harapkan.

Maka dari itulah,aku sadar bahwa Allah sedang menyiapkan berbagai jalan untuk seorang anak berbakti. Kemudian aku berterima kasih, sujud syukur seketika.

Masih banyak liku2 yg menghadang para anak2 sholeh/ah, bersyukurlah maka akan ringan.

Seujung kuku pun seorang anak tak akan mampu membalas kebaikan orang tua. Maka ini lah cara Allah menjadikan seorang anak yang sholehah untu ditempa sedemikian rupa dulu agar kelak doa anak sholehah dapat terus menemani Bapak dan Ibunya hingga ke akhirat, surganya Allah beserta orang2 yang selalu bersyukur. Aamiin.

3 comments:

rasa bahagia akan selalu muncul jika kita selalu bersyukur. Seberat apapun ujian, yang penting jalani, berdoa, dan bersyukur.

Iya mbak, bener banget...makasih ya.

Post a comment