Saturday, 19 September 2015

Membakar Harapan

Kamu, kalian pemilik ladang, pemilik ladang pekerjaan banyak orang seketika membakar ribuan harapan para pencari tujuan.
Kamu, kalian pemilik lapangan pekerjaan, penyumbang sumber daya alam, seketika membakar jutaan hak para pemilik hak.
Kamu, kalian pemilik kerakusan, merampas jutaan ilmu, hak para siswa, membakar seluruh harapan untuk mencapai tujuan.

Suatu sore, di Bandar Udara.
Kursi penuh. Ratusan orang duduk di lantai, mereka sedang tidak bersantai. Mereka sedang sibuk mengontrol kesabaran dan emosi. Mereka sedang sibuk mengabari orang yang sedang menunggunya di suatu tempat, di jauh sana.
Tak sedikit para Ibu menenangkan anaknya yang mungkin sudah sangat bosan. Bahkan tangisan seorang anak saja dapat memicu emosi anak-anak lainnya. Suasana sangat tidak nyaman bagi mereka para balita yang tak tahu apa yang sedang terjadi.
Ayahnya mondar-mandir mencari informasi keberangkatan, namun selalu nihil.

Sudah 12 jam menunggu hingga malam, lalu terbang menggapai tujuan, ada.
Sudah mengganti jadwal penerbangan dari pembatalan hari sebelumnya namun tetap belum diberangkatkan, ada.
Sudah 10 jam menunggu hingga malam, namun pada akhirnya penerbangan dibatalkan pun ada.

Ribuan orang menunggu di jauh sana.
Ribuan acara menunggu di jauh sana.
Harapan, tujuan, kebahagiaan, menunggu di jauh sana.
Dan waktu tak bisa diperlambat, tak dapat diputar ulang.
Menunggu adalah yang paling tepat.

Semua karena apa?
Keegoisan, keserakahan, dan ketidakpedulian!

Terima kasih untuk para pencipta asap jahanam ini.
Terima kasih atas segala ketidakpedulian kalian terhadap hak kami.
Terima kasih untuk orang-orang yang memanfaatkan kekuasaannya secara haram.
Terima kasih kalian sudah membakar segala harapan kami disini dan di jauh sana.
Selamat, kalian sedang menafkahi keluarga kalian dengan barang yang didapat diatas penderitaan jutaan orang.

Ketahuilah, kalian sedang membuat bara api untuk neraka kalian sendiri!
Selamat!

0 comments:

Post a comment