Saturday, 19 September 2020

Pikir matang informasi atau telan

Dengan kondisi pandemi saat ini kita dituntut untuk menjaga diri dan juga orang lain. Minimal untuk diri sendiri memang.

Kemudian ditambah lagi dengan tantangan menahan informasi bohong, hoax, belum dapat dipertanggungjawabkan serta tantangan bagaimana mengolah suatu informasi yang kita dapat walaupun sumber dari katanya dapat diandalkan. Mengolah dalam artian, menimbang terlebih dahulu informasi tersebut dengan cara bagaimana kita menyampaikannya, pikirkan terlebih dahulu sebab akibatnya nanti jika informasi tersebut sudah tersebar. 
Terlebih, sasaran informasi tersebut utk orang2 yg notabene sudah lebih dulu menerapkan hal2 yang sudah seharusnya dilakukan. Jauh berbeda dengan yg menyampaikan yg tak peduli dengan sekitar, seenaknya buang ingus ditempat dengan tisu2nya.
Benar, memang hal tersebut ingin disampaikan karena penting dan mungkin dapat membahayakan orang lain. Terlebih informasi tersebut hanyalah setengah2. Tapi pikirkan terlebih dahulu matang2, plus negatifnya.
Ada banyak hal yang musti dijaga. Ada banyak hati dan pikiran yang lebih harus diutamakan untuk tetap waras.
Ada orang yang hari2nya menjadi gelap, oenuh ketakutan, kekhawatiran, bukan apa, beban moril yg mungkin setiap orang berbeda2. Ada keluarga jauh yang betapa cemasnya mengetahui informasi tersebut.
Hingga pada akhirnya, informasi tersebut ternyata salah. Ada beberapa hal yg mungkin oknum tersebut tidak paham bahkan mungkin tidak kompeten dalam hal tersebut ditambah lagi dibagikannyalah informasi tersebut ke orang yang sangatlah tidak tepat. Kesehariannya saja sudah terbaca.
Bagaimana tidak terluka? Bagaimana tidak sakit, hati orang, keluarga yang diakibatkan oleh informasi tersebut. Banyak rencana masa depan yang sudah dirancang sedemikian rupa hingga pada akhirnya menjadi berantakan dikarenakan sebuah kecemasan berlebih. Betapa luarbiasanya dampak akibat informasi salah tersebut.
Kemudian ada yang berkata.."tidak boleh kayak gitu, dia pun tidak niat dan bertujuan seperti itu". Mohon maaf nih, sebelumnya pernah nyoba memposisikan diri sendiri seperti orang2 yg sudah terkena dampak informasi salah itu nggak? Memposisikan diri sebagai keluarga yang menjadi korban penyampaian informasi yg tak dapat dipertanggungjawabkan? Engga kan? Kok kita yang harus maklum? Kok kita yang harus menerima hari2 kita seperti mimpi buruk? Berpikir dulu ga matang2 dampak apa yang akan terjadi jika informasi setengah yg ga jelas dan blm bs dipertanggungjawabkan beredar? 
Sudah minta maaf tapi masih ada "ngeles" maaf atau apa itu?
Setelah terbukti salah apakah meminta maaf? Tidak. Seolah semua biasa saja. Tapi tidak untuk korban.

Pelajaran bagi saya. Pelajaran bagi saya. Cukup. Hanya Allah yang tahu apa yg saya dan keluarga rasakan, maka hanya Allah lah yang dapat membalas setimpal atas perbuatan2 tersebut. Allah yang balas. Allah yang balas.

Maka penting bagi kita untuk, pikir matang2 atau mending telan saja untuk diri sendiri.

0 comments:

Post a comment