Tuesday, 15 January 2013

Puisi Esay: Ini bukan mengenai "Indahnya Perbedaan"

Beberapa bulan yang lalu aku ikut lomba Puisi Esay "Denny JA" dengan ketentuan minimal 10.000 karakter. Yaa iseng2 ajaa ya...soalnya cukup tertarik juga sama yang namanya bentuk baru puisi, ini lebih bebas (Puisi Esay). Ga menang sih, tapi ya setidaknya udah nyoba, udah ikut berpartisisapi *eeh berpartisipasi gitu deeh...
oyaa, info selengkapnya mengenai apa sih Puisi Esay itu coba klik ini http://puisi-esai.com/2012/03/26/memahami-puisi-esai-denny-ja/ dan ini http://puisi-esai.com/2012/03/21/6/

ini nih hasil karya Puisi Esay pertama ku... mohon maaf jika ada yg kurang berkenan entah dari isi atau jalan cerita serta gaya bahasa yang buruk, ini diangkat dari kisah nyata tapi maaf *sumber dirahasiakan* :)

Ini bukan mengenai “Indahnya Perbedaan”

Manusia berjalan atas jalan
Banyak persimpangan
Manusia berakal untuk memilih
Manusia berperasaan untuk memilih
Berbelok, atau tetap lurus kedepan
Atau bahkan berbalik arah
Setiap persimpangan ada tujuan di ujung sana
Sudah terlihat jelas
Samar jika tak terang jalannya
Ini baru prolog
Prolog atas kisah hidup yang akan ku coba urai
Kisah aku, atau kami dalam menghadapi berbagai persimpangan
Kami manusia yang sedang duduk berdampingan
Menyaksikan kehidupan yang kumal
Menyaksikan puing puing asa


Aku, kami, keluarga muslim
Dalam perdesaan, muslim
Menjunjung tinggi agama
Dan kami bahagia
Hidup dalam islam

Ayah, seorang guru agama
Terpandang
Ibu, seorang ibu rumah tangga biasa
Gemar bersosialisai dan ramah

Aku, laki laki, bungsu
Dan satu kakak perempuanku
Kami lahir ke dunia dengan normal
Melalui perjuangan seorang ibu
Dan diazdankan oleh ayah

Keadaan kami sederhana..
Sederhana, namun bahagia
Semua tercukupi dirasa
Tiada rasa kekurangan
Sejahtera

Kehidupan kami berjalan dengan baik
Aku dan kakak ku dididik dengan baik
Agama yang baik
Kami berdua sering mengaji bersama

Sore, gorengan hangat selalu tersaji
Hanya gorengan hangat
Taktik jitu dari seorang ibu
Agar kita berkumpul
Setiap sorenya
Bercanda, bercengkerama
Menanti adzan maghrib

Seiring waktu berjalan menuju dewasa
Kakak masuk Sekolah Menengah Atas
Dan aku masuk Sekolah Menengah Pertama
Mulai itulah terlihat adanya perbedaan
Tak lagi sedekat dulu
Dia lebih senang diluar rumah bersama teman-temannya

Hubungan saudara kami semakin renggang
Tak sedekat dulu lagi
Tak seramah dulu lagi terhadapku
Ibu pun mulai merasakan hal yang sama
Hubungan yang merenggang
Membuat ibu merasa jauh
Dan serasa tak lagi mengenal putrinya

Berawal dari suatu hal
Sesekali ada seorang laki laki datang kerumah
Menemui sang kakak
Dia teman sekolahnya
“Ya, sekedar teman” kata kakak
Dia ramah terhadapku, ayah serta ibu
Ayah dan ibu menerimanya dengan baik
Suatu ketika sesekali itu menjadi kerap
Dan ayah dan ibu lantas tahu siapa laki laki itu
“lumpur!” dia kekasih hati putrinya
Dan dia non muslim

Seketika itu kami berkumpul
Tanpa aku, ayah dan ibu tak memperbolehkanku bergabung
Aku di kamar dengan sedikit memasang pendengaran lebih kearah pintu
Mereka berdiskusi, tentang hubungan putrinya dengan kekasihnya
Tak perlu ku tebak, pasti ayah dan ibu menentangnya
Sangat menentangnya
Tapi aku terkejut akan jawaban kakak
Dia tetap bersikukuh mempertahankan hubungannya
Tanpa memikirkan perbedaan
“ aku mencintainya, ayah..” lirihnya sambil menangis

Benar saja, tak mungkin laki laki itu mau memeluk Islam
Orang tua mana yang mampu berikan restu
Kepada anak yang berlaku menyimpang dalam agama
Menjalin hubungan kepada laki laki non muslim
Kemudian berusaha mempertahankannya tanpa melihat perbedaannya
Sekaligus ini menjadikan dia menentang orang tuanya
Semua tetap berjalan hingga kelulusan sekolah
Ketidakpastian akan keputusan menjadi merajalela
Belum terbesit upaya ayah dan ibu dalam hal merubah pemikiran putrinya kembali

Laki laki itu tak lagi datang
Kakak tak lagi terlihat berhubungan lagi dengannya
Tapi entah diluar sana
Kakak bungkam
Dia selalu mengurung diri dalam kamar
Aku tak lagi mengenalnya

Tak sama, berbeda
Tak semua orang suka
Perbedaan, jadikan hal menjadi lebih berwarna
Tidak untuk ini
Tidak untuk ku
Dan tidak untuk keluargaku

Tidak untuk menjadi indah
Karena berwarna
Mengapa?
Pikirkan, jika “berbeda” itu
Seperti mawar hidup di lumpur
Tak lagi indah kan?

Ya, ini agama..
Suatu keyakinan dimana letak perbedaan itu berada
Toleransi tak lagi ada
Jika perbedaan itu dipaksa bersatu
Tanpa adanya restu..

Perasaan, cinta kasih
Perasaan, ingin saling memiliki
Tapi tak semua orang dapat mengerti
Sekaligus memahami

Anie, kakak perempuanku
Bagai mawar dan lumpur
Yang ingin hidup bersama

Mereka tak seyakinan,
Tak satu iman
Mawar berupaya untuk tetap bertahan
Serta sembunyi
Akan kedekatan tersebut

Namun, lumpur tetap tinggalkan bercak
Dan terlihat, jika tak dibasuh air
Mawar tak lagi pantas…
Ketika ia tetap kukuh bersatu
Dan dia ingkari syahadatnya
Dia ingkari Islamnya

 “kalian berbeda, kalian tak satu keyakinan..!”
Seru ayah dan ibu terhadapnya, kakakku.
“kita saling mencintai, kita saling ingin memiliki…!’’
Seru kakakku dengan tetap pada tempatnya, lumpur.
dan  melebur satu perbedaan tersebut dalam diri

“Kau ini wanita muslim,
Haram jika kau dimiliki seorang laki-laki non muslim!
Dan demi Allah, janganlah engkau murtad wahai putriku..”
Ayahku tak lelah berseru semacam itu.

Ya Allah, ya Tuhanku…
Aku masih remaja
Tak sepenuhnya dapat mengerti
apa yang terjadi..
tapi aku mengerti agama, kebenaran akan apa sikap ayah dan ibu
tapi aku juga mengerti perasaan
perasaan kakak terhadap laki laki yang sangat dia cintai


Kita terpecah dalam suatu perbedaan
Aku tetap tak paham.
Bukankan kita hidup memang dalam perbedaan
Dan  menjadikan suatu perbedaan
Menjadi sebuah keindahan, kebahagiaan?

Aku tetap saja tak paham
“karena ini soal agama, dan kita di Indonesia”
Ujar ayah
Agama serta satu iman dijunjung tinggi
Dan toleransi hanya sekedar dalam hal beribadah
tolong menolong sesama makhluk
Bukan bersatu dalam ikatan pernikahan!

“Ya Allah, kau lahirkan aku dalam islam
Engkau nikahkan aku dengan laki laki islam
Dan telah aq lahirkan seorang perempuan islam
Tetapi apa aku telah gagal mendidiknya dalam islam
Hingga ia tak dapat memilih apa yang benar dalam islam
Dia tak lagi remaja, dosa sudah pasti akan ia pikul sendiri
Tapi aku tak mau menjadi ibu dari
Seorang anak yang memilih berdosa daripada pahala
Ibu mana yang tak sakit hatinya melihat anak memilih neraka daripada surga…”
Lirih, sebait curahan hati ibu terucap seusai bersujud kepadaNya

“pergi..! jangan kembali jika engkau masih murtad!”
Seru sang ibu..mendapati anaknya tak lagi seiman
Dan menjadikan keluarga ini
Tak lagi utuh..


Sang mawar pun pergi
Dan menetap dalam lumpurnya
Dan hening seketika rumah ini
Hanya terkadang terdengar tangis
Tangis ibu ku
Dia rindu anak perempuannya
Tapi dia juga kecewa akan sikap anak perempuannya
Mawar yang indah rela berkubang dalam lumpur
Lumpur dosa, dia murtad, murtad karena cinta !

Ayah yang menangis kehilangan anaknya
Ibu yang menagis kehilangan anaknya
Seperti taman sepi kehilangan bunga indahnya
Apabila sore datang, sempurnalah kesedihan itu
Gorengan hangat tak lagi membuat kakak ikut berkumpul

Ayah tak mampu berbuat banyak
Semua perkataannya menjadi hal yang sia sia
Dia hanya berusaha kuat dan tegar
Aku tahu, dalam hatinya sesak tak lagi dibendung
Namun dia tak lantas berhenti berdo’a
Berharap putrinya kembali
Kembali menjadi mawar yang indah
Kembali dalam syahadatnya

Sangat terlihat, ibu semakin kurus
Pipinya tirus
Keningnya berkerut
Ini semua karena kesedihan serta kekecewaan
Juga penyesalan
Penyesalan atas kegagalannya menjadi seorang ibu yang baik
Sesuai syariat agama

Namun ayah terlihat lebih tegar
Walau sesekali setiap doa setelah sholatnya, dia menangis tersedu-sedu
Ayah terlihat menguatkan ibu
Mengajak serta untuk berdoa
Tiada henti doa serta harapan
Agar putrinya kembali ke jalan yang diridhoi Nya
Yakini, ini kuasa Tuhan
Di luar kuasa kehidupan semua menjadi teka teki


Sesaat aku pun merindukannya
Rindu kakak ku
Dia sempat menjagaku, menyanyangiku
Aku pun ke kamarnya
Kamar yang sering menjadi tempat canda tawa bersama
Dalam kecewa
Dalam rindu
Aku terduduk lesu dalam kursi belajarnya
Tak lagi empuk, namun nyaman
Aq pandangi meja belajarnya yang selalu rapi
Aku nyalakan lampu belajarnya
Aku rindu dia di sini
Ku pandangi sekitar
Ku pandangi seluaruh sudut kamar
Dan pandanganku kembali ke meja belajar
Pandangan mataku menemukan buku warna ungu dalam rak buku
Itu buku yang selama ini tak sekalipun aku dapat membacanya
Aku raih..ku hela nafas..lantas ku buka halaman pertama
Ini diary


”Aku ini manusia biasa
Aku ini manusia diberi rasa
Aku ini manusia diberi cinta dan kasih
Aku ini manusia berhak bahagia
Aku ini manusia dewasa
Berhak memilih dan memutuskan
Aku ini berperasaan
Aku mencintai dan dicintai seseorang
Dan aku bertanya, bukankah rasa itu pemberian Tuhan?
Apa daya aku mengelak
Karena aku pun tak mampu
Aku ini tak mampu mengelak kasih sayang tulus orang
Kau damaiku, bahagiaku
Kau senyumku, tawaku
Kau nadiku, darahku
Kekasihku, aku mencintaimu
Walaupun tangan serta tubuh ini
tertimbun bukit
Tanganku kan menggapaimu
Kisah kita akan menjadi indah
Melebihi segala hal yang lebih indah
dari dunia ini
Perbedaan jadi tak kan berarti
karena hati telah memilih
Dan cinta tak kan pernah salah
Kaulah hidup ku
Kaulah matiku
Aku mau hidup denganmu
Aku mau matipun karena mu”
Begitu tulisan dairy kakakku dihalaman terakhir
dia tulis sebelum ia pergi meninggalkan rumah

Pikirku adalah kakakku sedang tersesat saja
Dia sedang dalam gelap
Karena ia tinggalkan wudhunya
Pikirku adalah suatu saat ia temukan arah terang
Ia temukan jalan arah pulang
Pulang ke pangkuan ibu dan ayah
Pulang ke jagoan kecilnya saat dulu, aku
Pulang ke rumah, rumah sederhana dari penuh bahagia
Rumah sederhana namun ramai akan ayat Al Qur’an
Karena yakinku apa yang menjadi hari ini
Bias luput esok hari
Apa yang terjadi hari ini
Bias saja esok hari kan berubah lagi
Yakinku, kan berubah menjadi lebih baik

Rasanya aku ingin bertukar kabar secara wajar
Berkomunikasi secara nyata
Tak hanya komunikasi dalam doa kepada kakak
Apa kau disana bahagia?
Atau teronggok bagai sampah, karena hidup dalam lumpur
Dalam kegamangan, dalam kerinduan, dalam sedikit penyesalan
Kakak, adakah sesal itu ada dalam benakmu?

Jika Allah masih beri waktu untukmu kak,
Kembalilah, selagi kau ada umur
Kita mengaji bersama, kita bahagia bersama
Kami semua rindu

Aku adikmu, menyayangimu
Aku takut kakak kehabisan waktu
Aku takut ayah dan ibu tak lagi ada
Aku takut semua berakhir sesal
Aku takut kau menjadi durhaka selamanya
Tanpa dapat maaf dari orang tua

Apa sanggup ayah ibu hidup dalam harap
Harap yang tak tentu kapan berakhir
Serta hidup dalam kasak kusuk tetangga
Kita bermasyarakat
Ayah agak terpandang sebagai guru agama
Tapi apa? Ayah tak dapat mempertahankan keimanan putrinya
Seorang guru agama yang memiliki anak yang murtad
Ingkar dari syahadat
Ibu pun sesak batinnya diusik berbagai kicauan
Kicauan para ibu tetangga
Tapi lihat, ibu hanya  balas senyum
Walau aku tahu, hatinya perih dan menangis

Kini kan ku coba urai epilog

Tabahkan hati
Teguhkan hati
Agar aku sekeluarga tak dapat berpaling dari Mu
Berikanlah cahaya lagi dalam rumah kami
Berikanlah nikmat bahagia kepada keluarga kami
Berikanlah ketenangan batin
Jangan kikis iman dan taqwa kami
Tebalkanlah kesabaran dan ketabahan hati ayah dan ibu

Doa, harapan dan nafas bersama
Satu udara
Kemudian tak ada lagi pilihan
Kecuali menyadari, manusia hanya sebatas berusaha
Selebihnya biarkan Tuhan yang menentukan
Menentukan mana yang terbaik bagi hambaNya
Ada waktunya Tuhan beri hidayahNya untuk kakakku


Tuhan, pintaku, jadikan aku laki-laki yang sholeh
Kelak menjadi orang yang berguna bagi agama
Kuatkan imanku
Hingga aku dapat pertahankan keimanan diri
Juga keimanan istri serta anak-anak ku kelak..

Beri aku selalu dahaga yang lebih
Dahaga akan ilmu yang bermanfaat
Beri aku iman dan taqwa yang kuat
Tuhanku, dalam ku termangu
Aku masih dan terus menyebut nama Mu
Terus dan terus doa dan harap agar sang mawar kembali
Kembali ke dalam keluarga ini
Dan meninggalkan lumpur dosa itu

Doa dan harap agar Anie, sang mawar temui jalan terang
Karena dia telah salah ambil jalan dalam persimpangan itu
Tuntun dia ya Allah
Agar dia mampu hadapi jalan di depannya
Untuk endingnya, aku serahkan semua kepada Yang Maha Kuasa
Apa yang menjadi terbaik, kelak terjadilah sesuai kehendakMu
Amien

1.       Diangkat dari kisah nyata “Pernikahan Beda Agama” sekitar  tahun 90’an.
2.      QS. al-Baqarah (2) : 221 
Pernikahan Beda Agama antara seorang Wanita Muslimah dengan Pria/laki-laki NON Muslim adalah DIHARAMKAN oleh ALLAH”
Menjadikan alas an kedua orang tua untuk menentang keras hubungan anak perempuanya dengan pria non muslim.












0 comments:

Post a comment