17 Agustus 2025 - Dengan kereta aku memutuskan segera pulang ke Klaten dengan jam paling awal. Untuk pertama kalinya perjalanan keretaku tak senyaman biasanya.
Untuk pertama kalinya juga rasanya tak sanggup berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya di dalam kereta pukul 10 pagi.
Tiba di ICU, ibuk masih merespon dengan segala keterbatasan, ibuk masih merespon, digenggamnya erat tanganku dan beliau menitikkan air mata. Tak menunggu lama lalu ku bisikkan, “ibuk ngga usah khawatir, rencana2ku dengan mas dayat tetap akan sesuai rencana setelah ibu sehat dan pulang. Apapun yang terjadi ibuk ngga perlu khawatirin aku.”
Karena aku tahu, dipikiran ibuk, yg dimana ibuk tahu dari A-Z semua hal tentang aku. Pekerjaan, planning kami kedepan. Segalanya.
Seolah mata dan genggaman tanganmu berbicara, “Maaf nduk kamu jd mesti kesini, nanti gimana kerjaan dan rencana2mu”.
Setelah ribuan doa memohon kesembuhan ibuk melangit. Tiba saatnya dimana aku mengubah doaku menjadi sembuhkan ibu dengan cara terbaikMu. Sembuh yang terbaik untuk ibu.
19 Agustus 2025 ibuk berpulang. Keadaan kami anak2nya? Tak perlu kami jelaskan.
24 Juni 2026 Maisha hadir dihidup kami. bukan pengganti dari yang pergi. Namun jadi pelipur lara bagi kami.
Rumput Fatimah
Terakhir ibuk ke bekasi, ibuk membawakan rumput fatimah yg dibeli mbah putri saat ibadah haji, sudah sangat lama sekali dan aku menjadi saksi rumput fatimah banyak yg meminjam digunakan utk kemudahan proses melahirkan. Semasa kecil aku selalu melihat ibuk menjemurnya sebelum disimpan dalam toples lagi. Namun itu tidak dianjurkan oleh medis, bahkan rencananya pun aku tidak akan pakai buk, hehehe maaf ya buk. Ibuk pasti mengerti.
Dengan rumput fatimah itu seolah ibuk tahu maisha akan segera hadir. Tapi tidak dengan ibuk disisiku.
Menjelang persalinan, aku semakin takut karena untuk pertama kalinya peristiwa besar dalam hidupku bahkan medis (operasi caesar) akan kulakukan tanpa doa ibuk. Aku sempat mengutarakan kepada Syaifu adikku bahwa aku takut namun ia menguatkanku bahwa doa2 ibuk sudah sangat banyak, melimpah.
Benar saja, semua menjadi terasa mudah. Bius punggung yang biasa saja hingga post sc yang cepat sekali pemulihannya, bisa dibilang tidak sakit. Hanya perut terasa aneh saat dipakai batuk dan tertawa.
Semua berjalan mulus, bisa jalan ke kursi roda untuk kembali ke kamar setelah operasi, lalu tidak lama langsung bisa menyusui. Semua begitu mudah.
Ini tanda ibu memang sedekat nadi. Pertolongan Allah melalui doa2 ibuk masih terasa hingga kini dan semoga selamanya.
ibuk, sudah satu tahun kepulanganmu. Aku yakin ibu berbahagia bersama bapak. Melihat kami yang juga berbahagia. Maisha sudah hadir. Aku sudah tidak begitu sedih. Namun maaf sesekali aku masih menangis. Karena rindu, bukan tidak ikhlas.
Aku akan terus melanjutkan hidup karena aku yakin ibuk ada sedekat nadi.
Semoga amal ibuk dan bapak diterima disisi Allah SWT dan dosa2 ibuk dan bapak mendapat ampunan dari Allah SWT. Semoga Allah lapangkan kuburnya dan Allah haramkan api neraka untuk ibuk dan bapak. Aamiin
Note: terima kasih untuk orang2 yang TIDAK mengatakan kepada kami “kasihan ibu belum sempat lihat cucu, andai ibu masih ada pasti seneng banget. “ dan andai2 yang lain, karena itu membuat kami sedih.
Karena ini sudah menjadi skenario terbaik dari Allah untuk kami, kita. Dan kami percaya Ibuk dan bapak sudah pasti lebih sangat berbahagia saat ini.
Dunia memang hanya sementara bukan?




