yang tak terlupakan,19 Januari 2013.

Jalan-jalan sama temen kuliah.

Puluhan Pantai Cantik Di Gunungkidul Yogyakarta

Butuh Referensi pantai-pantai di Jogja?? cuss klik judulnya!

Pantai Jungwok dan Pantai Greweng

Adventure is out there!!!

Les dan Privat Akuntansi Yogyakarta

hai!kamu yang di jogja (SMA/SMK/Perguruan Tinggi) lagi bingung sama yang namanya akuntansi?? jurnal jurnal ampek laporan keuangan?? yuk les/privat akuntansi

Wednesday, 9 November 2016

Rewang (masak-masak)

Kalian tahu ga sih apa itu rewang? Istilah jawa yang kira-kira begini artinya, membantu --biasanya dalam hal masak-masak kalau ada acara besar. Mungkin di kota-kota besar sudah tidak ada kegiatan rewang lagi karena mungkin sudah pakai jasa event organizer dan catering. Kalau di desa tempat tinggal saya masih ada rewang. Personil rewang bisa dari keluarga sendiri dan tetangga kanan kiri. Biasanya ada ketua chefnya hehee. Dia yang mengatur segala apa yang akan dibelanjakan, mengukur berapa saja yang perlu dibeli sebagai keperluan memasak. 

Aku seneng banget ada acara rewang, dapur jadi rame. Sambil masak, sambil nggosip. hehe. Beberapa waktu yang lalu keluarga bikin acara pengajian setahunnya Bapak, karena undangan cukup banyak, begitupun keluarga. 

Kurang lebih begini kegiatannya.





Sunday, 6 November 2016

JOG-PNK




Sudah sore, pukul 3.30 pm. Pesawat 4.45 pm, ah masih ada waktu untuk menikmati es coklat dan mengamati hiruk pikuk ruang tunggu terminal B Adisucipto Yogyakarta. Menikmati wajah2 yang sedih karena harus berpisah dari yang terkasih, ada pula wajah2 riang gembira karena pergi untuk berlibur atau berangkat menemui yang terkasih.
Bagiku, JOG-PNK adalah hal yang paling menyedihkan. Bukan, bukan saya menyesal mengambil pilihan PNK. Hanya saja saya bersedih harus berjauhan dengan orang2 terkasih. Itu resiko. Ya, sedari dulu saya tak pernah membayangkan perasaan seperti ini.
Lantas saya teringat, saya membaca salah satu tumblr:
Ada yang bilang, “Kalau mau ‘hidup’, ya di Jakarta.”
Ada yang bilang, “Jogjakarta kota yang bahaya untuk anak muda. Terlalu nyaman”
Anggap saja PNK ini adalah Jakarta. Saya sadar, saat ini saya sedang menerima resiko saat memilih keluar dari zona nyaman. Saya cukup menikmati.
Poin pentingnya adalah saya berhasil keluar dari zona nyaman dan itu menjadi salah satu kebanggaan untuk diri saya sendiri. Berbahagia butuh proses dan saya memang sedang berproses untuk itu.
Wish me luck !!

Tuesday, 1 November 2016

Jago Menggambar


 source: gambar gunung
 
Menggambar merupakan pelajaran pertama bagi manusia di muka bumi ini. Dari kecil jika sudah dipegangkan sesuatu di tangan kita pasti secara refleks gerakan kita adalah memukul2kan barang tersebut atau gerakan mencoret2 ke media di sekitar kita. Benar bukan?

Bapak jago sekali menggambar, selama ini setiap ada tugas menggambar pasti bikinan Bapak, pasti! ngga salah kalau hasilnya bagus, tapi ngga bisa bohong juga kalau itu bukan karyaku. Rupa-rupanya bakat menggambar Bapak turun ke Mbak. Dia jago sekali menggambar, apa saja. Termasuk design baju. Cantik-cantik sekali foto desain bajunya. Pernah saya merasa iri dan bertanya-tanya, ada apa dengan tanganku? Hanya menuangkan imajinasi ke dalam kertas melalui coretan saja aku tak bisa.

Tapi, saya bisa menuangkan segala ide dan imajinasi melalui tulisan, bukan gambar. Setiap orang memang memiliki bakat masing-masing ya.

Dari situlah dapat kita simpulkan bahwa sedari kecil sebenarnya sudah mulai belajar. Belajar menggambar, dari hanya sekedar seperti benang ruwet yang sangat ruwet sekali dan sangat mirip sekali. hehee

Nah, semakin bertambahnya umur akan semakin terlihat apakah kita bisa dikategorikan bisa menggambar bahkan berbakat dalam hal menggambar atau tidak. Mau belajar seperti apapun rasa-rasanya mustahil bisa menggambar. Berbeda dengan pelajaran-pelajaran lainnya.

Bener ngga sih? Atau hanya aku saja yang merasakan seperti itu ---sebagai pembelaan diri ngga bisa nggambar sih.


Tuesday, 11 October 2016

Berpikir sebelum berucap

Setiap orang punya hak bicara, hak menyampaikan pendapat maupun nasihat.
Setiap orang berhak mendengarnya maupun mengabaikannya.

Tetapi ingat,
setiap orang juga memiliki keterbatasan tebal dinding perasaan, tipis tebalnya berbeda untuk setiap orang.
Maka berpikirlah, berpikir.
Pikirkanlah sebelum berucap.
Apakah kapasitasmu untuk membicarakan hal tersebut?
Tidakkah menyakitinya?

Kemudian ingatlah,
setiap orang memiliki hak untuk menyangkal dan memberikan penjelasan.
Maka dengarlah, dengar.
Terimalah penjelasan tersebut.
Jika tidak, diam saja.

Atau kamu akan lebih menyakiti perasaan orang tersebut.

Sunday, 9 October 2016

Kenapa pulang terus?

Sebenarnya tidak terlalu penting untuk menulis postingan ini. Awalnya terlalu mahal waktu saya untuk menulis ini. Makin kesini makin risih juga mendengar pertanyaan bernada sok tahu dan menghakimi. Dari orang yang ga kenal dekat dengan saya bahkan orang yang dekat dengan saya, dari orang yang sksd sampai2 orang yang ga kenal tapi ikut2an. Menepis semua pertanyaan dan pikiran orang-orang sok tahu di luar sana pada akhirnya saya harus rela menyediakan waktu saya untuk mengutarakan apa yang terjadi sebenarnya.

"Kamu tu sering banget ya pulang"
"Kamu udah keseringan banget pulang"
"Ngapain sih kamu pulang terus, ga nabung apa?"
"Kamu tu ga niat kerja ya di ptk?"
"Banyak ih duitnya"
Bla bla bla blah

Sepele sih kalimatnya, tapi nadanya, intonasinya itu yang ga ngenakin bahkan nyakitin perasaan saya.

Sok tahu. Ngejudge.

Pertama, saya adalah seorang anak perempuan.
Saya punya hak dan kewajiban menjenguk orang tua saya.
"Kenapa ngga orang tuanya aja diajak ke Pontianak?"
Yang tahu kondisi orang tua saya adalah saya sendiri, anaknya. Orang tua saya tipikal orang rumahan yang kurang suka berpergian jauh bahkan pindah tinggal. Mereka lebih nyaman dan bahagia di rumahnya. Dan diusianya sekarang, capek karena berpergian bisa bikin sakit.

Kedua, orang tua saya di dunia ini tinggal Ibu saja. Praktis, saya lebih dan lebih lagi mencurahkan segala perhatian saya kepada ibu saya dengan membuatnya dia tidak terlalu kesepian dan didera rindu yang berlebihan yaitu dengan lebih sering pulang ke rumah untuk mengunjunginya. Dan ibu sangat berbahagia sekali saya pulang ke rumah.

Ketiga, sebagai reward diri saya sendiri. Saya bekerja, saya lelah bekerja. Senin hingga jumat, belum sampai disitu, masih banyak pekerjaan lain yang saya lakukan disamping sebagai orang kantoran. Saya berhak membuat saya bahagia, yaitu melihat ibu, keluarga, dan teman2 dekat saya bahagia bertemu saya, dengan cara "saya pulang ke rumah".

Keempat, saya adalah manusia biasa. Saya bekerja untuk keluarga dan saya sendiri. Saya mencukupi kebutuhan saya sendiri. Kini, ibu dan adik menjadi tanggung jawab saya juga. Mungkin bisa saja cukup dengan mengirim uang kepada ibu. Tapi ibu tak begitu butuh itu. Dan saya ingin lebih dari itu. Pulang dan berkumpul. Tidur bersama, makan bersama, bercanda di ruang tv rumah. Itu yang kami butuhkan. Untuk materi, itu plusnya.

Perlu kalian ketahui, semua materi yang saya keluarkan sudah saya perhitungkan, untuk hal mendesak sekalipun jika untuk keluarga saya tak perlu berpikir keras untuk mengeluarkan rupiah. Demi mereka dan saya sendiri tentunya.

Saya ngga nabung? Masa depan? Itu Allah SWT sudah mengatur, bukankah membahagiakan orang tua sama saja mempermudah rejeki anak? Ridho mereka menyertai saya, saya tidak pernah merasa kekurangan dan takut akan finansial masa depan saya. Saya terlalu sibuk bersyukur, alhamdulillah.
Tentu saja saya menabung. Selain itu juga saya "prihatin". Saya benar2 menahan diri untuk membelanjakan uang sekiranya saya tidak butuh barang itu. Atau berpergian tanpa mereka disini, saya kurang suka, saya sama sekali ga tertarik pergi ke luar negeri atau apalah itu. Rugi? Haha! (Ngakak aja dibatin)

Padahal saya sukanya jalan2 nggembel, wisata alam, klaten jogja aja belum puas. (Ngakak dibatin)

Bahkan, "kamu udah pernah belum ngajak ibu kamu jalan2, seneng2? Ajak aja ikutan."
Yang jadi anaknya siapa sih kok sok tahu banget. Ibu saya tidak suka berpergian jauh, jalan2 seperti itu. Sangat tidak suka! Saya lebih mengenal beliau karena beliau adalah ibu kandung saya. Dan tenang saja, kami sudah ada rencana untuk keluar negeri bareng, beribadah dan jalan2 sekalian. Calm down!
-------------------------------------------------------------------
Saya terlalu sibuk bersyukur sampai2 saya tak pernah ambil pusing mengeluarkan uang untuk sekedar pergi ke Jogja, Klaten atau bahkan ke Jakarta bertemu orang2 yang saya sayangi. Dan tentu saja saya sangat bahagia!

Semua uang saya, semua hasil dari jerih payah saya, gaji pegawai, honor kasih les akuntansi, honor jasa penyelesaian soal akuntansi, nulis, review produk dsb. Itu semua bukan uang anda, jadi jangan repot2 ngurusin tingkah polah saya ya. Nanti capek. 😂😂😂😂😂😂

Sekali lagi, saya berbahagia dengan cara saya bukan cara kalian.

Akhir kata, terima kasih sudah perhatian sama saya, terima kasih banyak ya. 😃